Sustainable (Env.) Development
What is Sustainable Development?
“Konsep Sustainable Development pertama kali diperkenalkan dalam dokumen “OUR COMMON FUTURE” pd thn 1987, sebagai hasil kerja sebuah komisi yg dikenal sebg World Commission on Environment and Development (WCED), yg diketuai Gro Harlem Brundtland. Dokumen tsb memperkenalkan konsep pembangunan berkelanjutan sebagai “..pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang utk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.” Definisi ini memenuhi berbagai persyaratan, tidak hanya yg mendukung pembangunan ekonomi, tapi juga memenuhi persyaratan pihak2 yg prihatin thd kelestarian lingkungan.
Konsep ini kemudian menjadi sebuah panutan bagi pembangunan di seluruh dunia, baik dalam pelaksanaan pembangunan maupun penentuan kebijakan dan strategi p’bangunan, dan kemudian dikaitkan dengan pengelolaan lingkungan.
Why the environment? Simple: we use resources and spaces provided by our nature.
Khusus dlm kaitannya dgn p’lolaan lingkungan, beberapa point yang menjadi titik acuan utk penerapan konsep tsb adalah:
1. ekonomi (Note: explain the examples, according to our last duscussion)
2. sosial (one important aspect, easily forgotten - or is it on purpose?)
3. budaya (remember the “talk to my…Golok!” incident?..ouch~!)
4. hukum (yadayadayada)
5. politik (zzz……)
, yang diwujudkan dalam politik hukum utk penentuan kebijakan dan strategi pengelolaan LH), serta penentuan instrumen dalam bidang terkait tsb di atas.
(Then go to case study)”
So, what is it all about?
The idea was, we can still save something for our children and theirs later, somekind of inheritance.But, see urself what we -and our parents did to this one-and-only nature. Sustainable (env) Development seringkali hanya dianggap sbg jargon masyarakat yg peduli pada masa depannya dan masa depan keturunannya. Kepentingan ekonomi dan politik lebih banyak bicara disini. Jika dipikir secara logic, it’s totally logical. Siapa yang ngga mau hidup enak, dengan kekayaan alam yg melimpah ruah?
Jadi ingat lagu saudara Michael -yg belakangan terus menerus didera tuntutan pelecehan seksual thd anak kecil (ini ngga ada hub-nya dgn masalah Sust.Env.Dev. memang, sekedar intermezzo aja): “Heal the world, make it a better place, for u and for me and the entire human race…”
Nah,disinipun terlihat egoisnya manusia: “for u and for me and the entire human race…”
Gmn nasib binatang, tumbuhan, & makhluk hidup lain, DAN mother nature sendiri dong??
Bukan mau sok idealis, tapi idealisme itu perlu lho.
Saya jadi ingat kata2 seorg kolega (yg kelihatannya disadur dari buku2 pegangan ttg lingkungan: “Bagaimana dengan kemampuan lingkungan utk menampung beban akibat keberadaan manusia dan aktivitasnya” alias Daya Dukung Lingkungan. Seringkali kita lupa, alam, seperti halnya manusia dgn berbagai masalah yg dihadapinya, perlu waktu utk bisa menyelesaikan “faktor X” yang mengganggu stabilitas dan kondisinya.
it’s about time we think about it, deeply and seriously. Kalau masih bingung, let me give u a hint: Illegal Logging dan Reboisasi (ini legal)… Liat2 aja kasusnya, and use ur imagination (bukan utk memikirkan sesuatu yg fiktif ataupun tidak senonoh, tp pikir hubungan illegal logging dan reboisasi).
Published by Anggie on March 26th, 2005 | Filed under Blah..blah..blah..
April 10th, 2008 at 12:44 pm
Thx bwt post ny…
Lg bikin paper tentang
“Corporative Social Responsibility and Sustainable Development Report”…
Dapet tambahan referensi…
May 13th, 2008 at 9:04 pm
[…] http://anggie.lensa.or.id/?p=3 diakses Rabu, 30 April 2008 pukul 18:58 […]