Salah kaprah?

Ahahahaha….
lagi2 saya dikira orang lain. Tapi kali ini karena ada link antara blog saya dgn blog suami…jadi tulisan2 saya somehow dia-link ke blognya, jadi muncul juga di halamannya.
Salah kaprah (bener ngga? maklum rada kurang cerdas…)
Bagus juga, bisa untuk promosi -apaan??-, soalnya senang juga kalau dapat comment atas suara sumbang saya.

Pernah juga sih, ada comment yang sifatnya “merusak”. Vandalisme, kalau bisa dibilang. Spt pernah ada yg mengomentari tulisan saya tentang satu kejadian di bulan suci Ramadhan. Akhirnya comment tadi disepam (!) karena berpotensi menimbulkan prasangka. Judulnya jadi salah kaprah.
Tapi saya masih ke-ge-er-an dengan salahkaprah -eh, salahsangka ini.
15 minutes of fame?Haha.

Published by Anggie on September 3rd, 2008 | Filed under Blah..blah..blah.. | 1 Comment »

Alone (again?)…naturally…

Well…..am not exactly alone. Tapi setelah 3 tahun ini sepertinya baru sekarang saya ngerasa so…lonely. I’ve got may little family near me, tapi koq rasanya sepi….?
Dulu saya sering ngerasa kayak gini. Alone in the crowd, menurut paririmbon bahasa planet. Saya ada di tengah teman2 sekelas jaman Sekolah, yg paling tidak ada 45 orang. Tapi saya ngerasa kesepian.

Mungkin bawaan saya yang sejak kecil dianggap “anak kecil” oleh teman2 sendiri, antara lain karena size badan saya yang memang termasuk paling imut di kelas; belum perilaku saya yg mereka anggap polos, mirip anak kecil. Bahkan ketika kemudian, saya tidak laki berperilaku mirip anak kecil, saya tetap dianggap anak kecil. Lagi2 karena ukuran body yg mungil alias kuntet. Bener2 deh. Ingatan tentang cap anak kecil itu bahkan sudah mulai sejak TK, waktu saya menggambar matahari dengan cara yg dianggap “tidak lazim” alias “tidak seragam” oleh teman satu group saya. Saya ngga pernah lupa kata2nya sampe sekarang “”biar aja, ngga apa2, dia kan masih kecil”….Padahal mereka sama ‘kecil’nya dengan saya -wong temen sekelas!

Waktu SMP, teman sekelas saya kelas 1, kebetulan laki2, bilang “Kamu tehlucu ya…kayak anak kecil…” -yang saya terjemahkan sebagai “kamu koq kuntet?”…. sementara yg bilang adalah anak yg badannya segede gaban; tinggi dan gemuk. Besar banget lah, pokoknya! Sempat ada perasaan senang juga dianggap kecil, karena anak2 yg ‘besar’, terutama laki2, cenderung lebih protektif sama saya. Tapi waktu upacara bendera tiap senin pagi (dan penurunan bendera sore, waktu masuk siang), terpaksa saya kebagian berdiri paling depan. Sikap badan harus sempurna, ngga bisa curi2 ngobrol bergossip dgn tmn2, ngga berani nguap karena di depan deretan guru plus wali kelas yg siapsedia melototin anak muridnya yg tidak tertib.

Waktu SMA, saya selalu kebagian diantar pulang paling dulu kalau anak2 sekelas main ampe malem. Sebenernya ini ada hubungannya dgn sikap ayah saya yg (sok) galak, beranggapan bahwa semua laki2 di dunia -kecuali dirinya- adalah penjahat (kelamin) yang siap melahap anak gadisnya. Tapi, lagi2, saya kebagian posisi depan waktu upacara bendera. Hhh…nasib…

Waktu kuliah, saya manfaatin aja size badan (yg udah mulai bulet -demplon, klu menurut temen2 main jaman kuliah) untuk nyelamatin diri dari deraan ospek. Lumayan, sbg seksi mampus saya ngga kebagian lari2 keliling bukit, nyebur ke sungai dan minum segelas rame2 berduabelas. Saya bisa dapet jatah makan lebih dulu, dan enak2an tidur siang di pos mampus. Haha.
Kemudian, lamaaaa kemudian, baru saya sadari juga bahwa perilaku saya yg seperti itu yang mendukung perasaan sepi alias lonely, dan terasing dari keramaian. Padahal semua ada di dkt saya.

…Dan yang paling jelas, saya merasa bahwa saya bukan subyek yang dianggap menarik untuk selalu diajak ‘bermain bersama’, oleh teman2 sekolah, sampai akhirnya saya menemukan teman2 yang menganggap saya ada, eksis klu kt ABG skrg. Waktu kuliah dan setelah mulai kerja. Rasanya “serangan sepi” itu cuma muncul ketika saya benar2 alone in the crowd i didn’t recognize.

Satu hal lagi yang saya sadari, bahwa serangan tadi kadang muncul ketika saya menutup diri dari dunia sekeliling. Biasanya saya lakukan waktu saya kesal, marah pada seseorang atau sesuatu. Seperti sekarang. Satu2nya obat adalah dengan berusaha untuk ‘tidak kesal &/atau tidak marah’, karena posisi saya sekarang membuat saya harus menelan kekesalan ataupun rasa marah. Karena jika tidak, akibatnya seperti saat ini, perasaan sepi dan terasing muncul lagi.
Saya memang bikin kesalahan dengan merasa kesal dan marah. Tapi sepertinya memang saya harus (selalu) menelan semuanya bulat2, karena saya sudah berjanji akan berusaha, sangat berusaha, menjadi pendamping yang (ter)baik.

Sepertinya saya harus mengingatkan diri sendiri lagi. Sekali lagi, untuk menghilangkan semua emosi. Dalam bentuk apapun. Karena saya hanya boleh senyum dan bersikap baik pada semua orang. Supaya bisa dianggap manusia.

Published by Anggie on July 13th, 2008 | Filed under Domestic Goddess | 6 Comments »

Seandainya Ayu Utami…

Saya pernah menulis tentang Ayu Utami dan salah satu artikelnya yang berhubungan dengan mie instan. Waktu itu saya memang sedikit banyak terinspirasi cerita mie instan mbak Ayu, dan kesadaran sebagai konsumen yang (rada2) nagih mie instan, both karena enak dan gampang bikinnya.
Postingnya sih sudah lumayan lama, tapi ternyata sampai sekarang saya masih terima comments untuk tulisan tersebut (ada juga ya yg mau mbaca tulisan saya!? heuheuheu). Yang bikin kaget, beberapa diantara komentator sepertinya mengira tulisan tsb sebagai tulisan Ayu (waw!)… Tapi sebagian yang lain jelas2 tahu bahwa itu tulisan saya yang selalu nyablak dan korslet. Saya jelas rada ge-er…tapi sekaligus was-was, takut dikira plagiator alias tukang photocopy karya orang lain. Padahal saya cuma ‘kurang kreatif’ -yeah, right!

Kadang saya pengen banget membalas komentar bbrp rekan yang (kayaknya) salah tafsir tadi, tapi ngga jadi. Bukan karena saya mau membiarkan diri menikmati rasa ge-er dikira sebagai seleb (hmph!), tapi karena saya justru takut dikira ge-er, merasa bahwa mereka mengira saya adalah Ayu. Jadilah saya terdiam sendiri sambil senyam-senyum-mesem…bingung mau ngapain.

Yah, setidaknya sedikit banyak saya jadi terinspirasi buat nulis lagi di blog ini. It’s been a while juga soalnya; a loooooooooooooooong while. Sibuk dengan urusan “dewi lokal” (baca: Domestic Goddess), dengan segala aktivitas yang bikin heboh semua orang, termasuk nyaris membakar dapur karena kelupaan ‘ninggalin katel isi minyak di atas kompor. Ck..ck..ck..

Seandainya Ayu Utami di posisi “dewi lokal”, apa dia akan melakukan keteledoran yang sama?
Rasanya tidak; setidaknya menurut saya, karena yang selalu saya bayangkan adalah Ayu Utami si parasit lajang (maaf ya mbakAyu, bukan menjudge hanya menilai -apa bedanya??), yang masih menempel pada ‘inang’nya.Mungkin ada miripnya dgn masa2 saya sebagai parasit lajang jaman dulu. Hidup seperti tanpa beban kecuali kekhawatiran kapan saya naik gaji atau kapan saya dapat kerjaan tetap yang bonafidh sesuai harapan orangtua, kapan saya ketemu jodoh -yang ini lebih terasa kalau ada undangan pernikahan yang tiba2 muncul di pintu rumah, dari salah satu relasi keluarga atau teman saya. Soalnya pasti mendadak mata orangtua saya jadi terlihat khawatir sekaligus gemas setiap melihat saya. Padahal yg dipelototin lempeng2 aja…(sambil cemas juga jauuuuh di dalam.)

Seandainya Ayu Utami dan saya bertukar profesi sekarang ini, dijamin saya cuma bakal menjatuhkan nama seorang Ayu Utami. Saya belakangan sering browsing lihat2 tulisan yang ada hubungannya dengan matakuliah yang saya pegang, dan menemukan bahwa ternyata saya ketinggalan jauh dalam hal tulis-menulis. Bukan hanya karena tidak produktif, tapi terutama karena banyak banget blogger dan penulis artikel yang lebih muda, membahas topik terkini dengan tajam, kritis, kadang sinis, dengan dukungan data superlengkap, dan lengkap juga dengan link kesana-kemari, plus daftar pustaka yang berderet. Hasilnya, tulisan yang menurut saya dashyat. …dan disinilah saya; terinspirasi tulisan2 mereka; dan dengan semangat mulai menyiapkan bahan kuliah dengan rujukan tulisan2 itu; dan merasa sangat tidak ‘nyaman’ disaat yang sama. Terasa sekarang betapa saya tidak produktif, padahal fasilitas penunjang sudah lengkap: browsing bisa kapan saja (kalau ‘boss kecil’ saya sudah lelap tidur, tentunya), ada ‘occasion’ yang menuntut saya untuk produktif menghasilkan sesuatu. Tapi tetap saja, saya (merasa) sibuk bertugas sebagai ’sang dewi’; dan merasa sangat malu dan ngga pe-de. Saya makin merasa betapa saya tidak berusaha meng-update isi kepala, padahal teknologinya di depan mata. A single -or double- click, and the world will be opened widely Tapi ya dasar sifat manusia (baca: saya): malas. Saya pun berubah jadi makhluk kecil (kalau ngga bisa disebut kerdil) mirip si Plankton yang selalu ambisius pengen mencuri resep rahasia crabby-patties. Bedanya adalah, plankton selalu berusaha meng-update cara terbaik untuk merampok si resep rahasia, sementara saya (merasa) sibuk dengan ‘dunia kecilku’.

Tapi seandainya Ayu Utami ada di posisi saya, belum tentu juga dia bisa jadi the real goddess seperti saya ini…hehehe. Atau malah neng Ayu jadi lebih baik dari saya??

Seandainya Ayu Utami baca tulisan saya, pasti dia eneq deh. Dijadiin obyek tulisan ngalor-ngidul orang insomnia ini.
One more thing.
Saya ‘pinjam paksa’ nama Ayu Utami lagi di judul yang sekarang. Bukan untuk menarik minat baca masyarakat penggemar Ayu Utami dan menuai komentar yang bikin ge-er lagi (ampun deh!), tapi memang cuma itu penggalan kata yang terpikir waktu mulai ketik2 barusan. Maklum, seperti saya bilang tadi, saya bukan plagiator. Saya ‘cuma’ kurang kreatif.

Published by Anggie on June 1st, 2008 | Filed under Blah..blah..blah.. | 6 Comments »

“We ate our 1 y.o. baby…!” : Edible Picture

Ini bukan cerita tentang kanibalisme. Bukan juga lanjutan kasus Sumanto.

Ini tentang kue ulang tahun. Roti, kata orang Jawa mah. Bikin ‘roti’nya pake acara nangis darah berhubung kokinya amatiran; Saya, yang seumur idup baru bikin kue ’serius’ sendiri. Hasilnya lumayan, daripada lhumanyun; cake dari brownies kukus yg ngga cuma dihias krim dan gula2 bentuk dinosaurus & hati, yang bikinnya tapi juga photo anakku, yang satu senyum manis dan satunya lagi manyun sambil megang ’sorban’ (ambisi bunda dan para tante utk bikin pose imut). Bukan sembarang photo; Wangi manis gula, dgn rasa mirip2 kertas bakpao dan bisa dimakan alias edible. Jadilah, kami semua ‘memakan’ si dede sayang… :)

Edible picture ini kelihatannya sudah mulai jadi ‘trend’. Kalau selama ini kue alias roti utk perayaan2 biasanya dihias krim, bunga2, dan untuk acara anak2 biasa ditambah figure alias tokoh2 kartun kesukaan anak kecil seperti spongebob atau barney atau lain2, sekarang kue bisa dihias dengan photo. Terserah mau photo siapa, tapi biasanya photo yg dipasang juga photo yg ulangtahun. Idenya memang menarik; anak kecil juga bakal senang photonya bisa dicetak gede2 dan dipampang di kue ultahnya (cocok juga buat org2 narsis macem saya…hehehe…kalau jaman dulu sudah ada trend kue macam ini mungkin saya akan minta ulang tahun sebulan sekali!)

Saya sendiri dapat ide dari suami, yang kebetulan salah seorang temannya punya usaha pesanan kue termasuk kue dengan edible picture ini. Berhubung pengen nyoba bikin kue ~ceritanya ambisi pengen seperti ibu saya dulu yang selalu membuat sendiri kue ulangtahun untuk kami, anak2nya, akhirnya saya memaksa dan menyiksa diri. Saya memang ngga terlalu puas dengan hasilnya, tapi saya jadi punya semangat untuk nyoba lagi bikin kue. Apalagi, suami, ibu saya, dan mbak vita -teman suami saya tadi, menyemangati saya juga.

Yah, kali aja bisa bikin pencerahan buat saya, sekedar ada kegiatan selingan (itu juga kalau bisa diselingi dari ngurus si dede tercinta…hehe). Btw, klu mau kontak Mbak Vita atau mau liat2 blognya bisa liat di

Published by Anggie on December 27th, 2007 | Filed under Domestic Goddess | 2 Comments »

Greenhouse bikin Global Warming…?

Haduhaduhaduh!!!

Heboh Global Warming alias Pemanasan Global ternyata tidak hanya marak di kalangan ilmuwan, pemerintah & pemerhati lingkungan. Sejumlah kalangan yang (kelihatannya) ngga ada nyambungnya dengan urusan ini ternyata ikut juga prihatin dan bersuara. Salah satunya saya lihat di tayangan infotainment salah satu stasiun tv siang tadi.

Seorang diva Indonesia, yang terkenal dengan inisial namanya (kalau di acara kuis bakal ada clue atau petunju “dua huruf!”), dalam satu wawancara, menyatakan keprihatinannya mengenai global warming tsb. Saya kutip kata-katanya: “…Saya tadinya bercita-cita punya green house, tapi ngga jadi, karena katanya green house bisa menyebabkan global warming…”

Ng…..?!
Yah….saya bukan orang cerdas, bukan manusia yang pintar. Tapi rasanya ada yang aneh di kata-kata sang diva. Saya kira, mungkin yang dimaksud penyanyi kondang tsb, bahwa ia khawatir greenhouse (effect) akan menyebabkan global warming, sehingga dia tidak jadi membangun greenhouse (= rumah kaca). Tapi kalaupun itu yang dia maksud, rasanya masih ada yang aneh; Ngga nyambung soalnya!
Setahu saya juga, greenhouse (= rumah kaca) yang biasa dijadikan tempat bercocok tanam ~biasanya sih untuk tanaman yang khusus atau untuk pembibitan dalam pertanian/perkebunan~, tidak menimbulkan global warming; hanya ‘local’ warming sebatas dinding sang greenhouse tsb.

Sepertinya ada yang mesti menjelaskan sedikit perbedaan tsb pada sang diva….

Published by Anggie on December 9th, 2007 | Filed under Blah..blah..blah.. | 7 Comments »

dimanakan gerangan…? (tertohok anak kecil)

Lagi2 keingetan lagu. Kali ini lagunya January Christy (maaf klu ada kesalahan dlm penulisan nama), yg smpt ngetop pas taun 1988/1989 gitu.

…melayang aku bersamamu, oh….
dalam harapan baru
melayang tinggi bayanganku
melayang…melayang

dan cuma itu.
ya, cuma itu syair alias kata2 lagunya.
sesingkat judulnya “melayang”
tp arransemen musiknya emang rada2 bikin pikiran melayang, antara lain karena mikir “ini lagu pendek banget?? Ngga selera pas bikinnya? kurang kreatif? atau kehabisan inspirasi? atau memang sesuai kata2 dan nuansa lagunya, menggambarkan org yg melayangkan pikirannya kemana-mana. Jadi ini into-lamunannya -apapun itu yg dilamunkan.

Anyway, setelah melayang itu kata2 ngga penting tadi, jadi ceritanya saya lagi bengong tadi; melamun ngga jelas juntrungannya. Tau2 keinget anak kecil, pemulung, yg saya temukan di pintu gerbang mal PVJ. Saya bener2 ngga sengaja melihat anak itu, pas lagi “melayang” setelah pontang-panting beli perbekalan mudik kmrn sambil menyusui bebe kecilku. Saya kaget lihat anak kecil, duduk di ujung trotoir dkt jalur keluar mobil. Saya smpt bengong, lalu ribut nanya ke suami if we can go back coz i wanted to go and talk to the boy. Saya pernah kebanyakan mikir waktu ada kejadian persis gini, dengan ’subyek’ seorg aki2 yg jelas keliatan emang butuh, bener2 mengemis karena butuh (atau setidaknya begitu asumsi saya, soalnya pengemis yg musiman atau sekedar manusia malas kan banyak dan kadang bisa didiagnosa MOnya…), dan gara2 itu akhirnya lenyaplah kesempatan saya utk mendekati si aki dan mencoba siapa tau saya bisa sekedar basa-basi dan nolong something sedikit aja mah.
Saya ngga mau kejadian itu terulang lagi (dan lagi, krn udah keseringan spt itu), jadi saya rada ngarewih ke mas suami utk dianter balik. And he agreed.
Akhirnya saya sampai ke dkt anak tadi, setelah diturunin mas suami di seberang jalan. Anak itu lagi duduk sambil tepekur, kepala dia baring di pahanya, tidur. Saya pikir dia pemulung krn dia bawa2 (ex) karung beras putih. MasyaAllah….paling tua dia seumuran keponakan saya, 10thn.

Saya coba bangunin dia tapi susah bgt, dan dia malah sempet rada ngigo waktu saya ‘guncang’2 pelan spy kebangun; “ngggh, cape…cape….!” katanya, rada ngga jelas. Saya jd keinget adik sy waktu dia ketiduran di ruang tamu rumah pulang latihan basket. Bedanya, anak kecil itu badannya dingin, karena wkt itu udah jam 1/2 10 malam. Kebayang kan, anak kecil ada diluar rumah semalam itu, bukan utk latihan basket tapi ketiduran krn kecapean, karena kerja…
Waktu akhirnya dia keliatan 1/2 terbangun, saya buru2 sodorin sedikit uang, sambil saya bilang bhw itu utk dia, dan saya mau dia pulang aja karena udah terlalu malam buat dia, bhw udara dingin dan dia sebaiknya tidur di rumahnya aja. Saya tanya dia, tinggal dimana, dia bilang “jali”… ngga jelas lagi, tapi pas dia liat uang yg saya simpan ditangannya, matanya membesar dan dia smpt nanya “ini…kembalian….?”
Ya Allah…..masa dia nanya kalau2 saya minta kembalian…??? Disitu saya mulai ngga tahan, rasanya tangis yg udah nyolok2 tenggorokan dan mata udah siap tumpah. Saya cuma bilang “Ngga, ini semua buat kamu! Kamu boleh pake apa aja; beli makan ya? Kamu udah makan?”
Dia jawab “belum…” Gimana anak seumur itu ada di jalanan, tanpa baju hangat, dan belum makan…???

Akhirnya saya bilang supaya dia cpt pulang aja, dan dia ngangguk. Jadi saya terus pergi.
Dan saya pun ngga tahan lagi, nangis sambil nyebrang menuju mobil; dimana suami dan anakku nunggu; dimana anakku melotot nunggu saya balik sambil pakai baju hangat; setelah kami belanja ini dan itu utk keperluan mudik, terutama buat anak saya, making sure bhw akan ada cadangan makanan utk anakku kalau2 saya ngga smpt (atau malas) masak.
…sementara anak tadi, pemulung kcl tadi smpt tertidur di trotoir, tanpa baju yg ckp hangat menahan hawa dingin, tanpa makanan, sementara dia seharusnya ada di rumahnya, tidur dengan selimut dan alas yg cukup hangat, dengan perut kenyang.

Saya nangis (hampir) sepanjang jalan pulang. Rasanya koq saya ngga bisa nolong dia, kenapa saya ngga berusaha ngasih anak itu ‘lebih’, koq saya ngga bisa anter dia pulang, making sure he’ll get enough (and proper) food, bed & shelter. Kami smpt lihat anak itu jalan buru2, mungkin mau pulang, sambil mukanya sedikit lebih segar. Moga2 apa yg saya kasih ada manfaatnya buat dia, dan yg jelas ngga sampai dipalak org lain!!! Saya pengen teriak sama ortu anak itu, kenapa anak sekecil itu dibiarin pergi kelayapan kerja sampai semalam itu, apalagi tanpa ‘perlengkapan’ yg bener.

Sakit rasanya.
Dan barusan, saya tiba2 inget anak itu. Waktu ‘melayang’. Saya melamun lagi, apa anak itu smpt ngerayain lebaran juga, apa anak itu setidaknya bisa dapet makanan, pakaian dan tmpt berlindung yg layak; apa orang tuanya bisa ngusahakan pakaian yg lebih hangat buat dia; apa orangtuanya sudah melarang dia keluar dan kerja sampai selarut itu… dgn bait lagu yg singkat, rasanya semua pertanyaan yg ada di kepala saya ngga bakal ketauan dan kalaupun ketauan, apa ya ada yg bisa peduli, bukan pada saya tp pada si anak kecil td…

Saya jadi merasa bhw selama ini saya masih banyak kurang bahkan tidak mensyukuri apa yg Allah berikan buat saya; bahwa saya segitu picik dan malas.Saya harus bisa jaga anak(-anak) saya supaya ngga sampe ngalami nasib seperti itu, apalagi worst!!! Amit2 deh!!! Terutama juga, saya harus belajar utk lebih mensyukuri apa yg sudah Allah kasih sama saya. Jangan sampai saya jadi manusia kufur ni’mat…Naudzubillah!!!

Published by Anggie on October 14th, 2007 | Filed under Blah..blah..blah.. | 2 Comments »

Legal Alien

Kangen cd sting jadinya…
gara2 kemarin ngerasa so lonely di rumah mertua. Bukan apa2, saya satu2nya yg ngga berbahasa Jawa disini (selain anakku tentunya, yg ngomong aja masih blabap-blebep karna masih bayi).

Saya jadi mikir juga, berapa lama waktu yg diperluin seorang ipar/menantu buat bener2 menyublim dengan surroundingsnya -in average.
Saya, yang udah ampir 3 tahun lebaran di mertua masih ngerasa asing juga -lha wong ketemunya setaun sekali ini, pas lebaran. Kendala bahasa, plus tahun ini ada xtra kesibukan: megang anakku (doi bahagia banget dgn byk orang disekelilingnya, nanggep doi setiap saat dan siap membahagiakan dgn jalan dan gendong kesanakemari). Wadooooh, rasanya ampir ngga ada waktu buat sekedar basa-basi-bazhouk… Waktu semua org kumpul buka puasa terahir, saya sibuk menyusui sang cinta di kamar tidur. Gitu juga waktu semua org sungkem pas lebaran. I’m not complaining, heavens no! Justru saya bersyukur bgt, Alhamdulillah masih bisa menyusui cintaku bebe kapan aja dia mau. Cuma emang there’s the other side of it.

Ipar2 dari pihak keluarga (kandung) saya -isteri kakak2 dan adik saya- rata2 pada smpt tinggal satu rumah dengan saya dan orang tua (pondok mertua yg ngga terlalu indah maupun nyaman), gitu juga saya dan suami. Tapi toh tetep aja ada hal2 yang sulit disinkronisasi sebagai orang asing (legal) di lingkungan keluarga ipar/menantu (sebut aja In-Laws lah, biar gampang).

Tapi upaya inlaws saya buat membaur dengan sesama inlaws -menurut saya- relatif lebih mudah karena selain para menantu 75% adalah perempuan, usianya juga masih satu generasi lah. Jadi malah saya yg suka merasa tersisih sebagai non-kaum pendatang…(sensipe amat??)
Sementara saya, di tmpt mertua, adalah menantu dari anak paling kecil, yang usianya terpaut lumayan jauh (beda usia dgn suami aja udah 9 tahun, jadi dgn kakak ipar tertua beda usia saya sekitar…yah, sama lah jaraknya dengan saya ke adik ibu saya yg no.2, kelahiran thn ‘51)
Lumayan bikin bete kadang2, karena usia saya dgn keponakan tertua cuma beda 7 tahun. Sehingga kadang2 ada perasaan bhw inlaws saya memandang saya ngga jauh beda dengan keponakan kesayangan mereka. “Cuma” anak kecil. Topik pembicaraan ya kadang nyambung tp lebih sering lagi ngga nemu. Soal gap usia itu. Ditambah lagi mitos “orang kota vs orang kampung” tea.. (saya seh ngga merasa either one, bukannya sama2 tinggal di “kota X” dan “kota Y”…). Dianggap beda. Padahal sami mawon. Bukan mBE bukan pula kuDA.
Untungnya saya pendatang legal. Jadi masih bisa merambah kediaman mertua yg nyaman ini dengan leluasa, despite keramaian rutin dari motor tetangga yg slalu mbrobot meledak-ledak pas anakku baru tidur, atau obrolan si mbak tetangga dgn keluarganya, yg kedengeran mirip org brantem daripada ngobrol biasa karena cenderung memekik/menjuit, blm lagi keramaian petasan prepetan selama mlm takbiran dan lebaran.

Terlepas juga dari masalah kerasan/ngga kerasan, kendala bahasa ataupun ‘gap’ usia, rumah mertuaku ini memang ngangeni…Bahkan parasit legal ini-pun selalu menunggu saat mudik dengan semangat.

Jadi kadang saya merasa bhw di wilayah mudik ini, satu2nya yg nyambung klo bicara adalah….suami saya. Lhaaa….berasa di rumah sendiri ya?!

Published by Anggie on October 14th, 2007 | Filed under Blah..blah..blah.. | Comment now »

napsu lebih kejam daripada (hasutan) syetan…? (Naudzubillah..!)

Tadi siang saya lihat berita di tv tentang sebuah ormas Islam di Cianjur yang men-sweeping warung2 yang jualan makanan di siang bolong. Ada yang salah? Sebenarnya sih ngga ada, tp berhubung mereka jualan makanan siang hari pas bulan puasa, para anggota ormas berpendapat bahwa tukang2 makanan tsb tidak menghormati umat Islam yg sedang berpuasa ramadhan.

Jadilah para muslim yang berpuasa menahan lapar, haus, dan hawa nafsu tsb merusak gerobak, kursi-meja serta tenda dan memaki sang ibu2 pemilik dagangan yang (disorot kamera) menangis meratap-ratap; jelas karena kegiatan berdagangnya berantakan; karena berarti tidak ada pemasukan hari itu, sesuatu yang saya yakin sangat diperlukan keluarganya karena rasanya ngga mungkin si ibu dagang sekedar untuk bersenang-senang mengisi waktu luang sambil ngabuburit.

Saya cuma terperangah dan sedikit banyak marah. Bukan sok membela, tapi saya kira si ibu tidak memasang undangan bagi kaum muslim yang berpuasa untuk batal puasa. Bukan pula, saya yakin, si ibu dan sejumlah pedagang lain sengaja jualan untuk menghina umat Islam yang berpuasa. Mereka hanya sekedar melakukan pekerjaan -yg saya kira halal- untuk dapet uang. Yang saya ngga habis pikir, orang2 di ormas tadi mengaku muslim, manusia beragama, Islam pula, sedang berpuasa Ramadhan, tapi koq ya ngga bisa pakai cara yg baik untuk menegur orang2 yang ‘menghina’ tsb. Tanpa acara menghancurkan properti milik orang lain dan memaki2. Lha bukannya yg spt itu yg bikin puasa makruhm bahkan batal? Seingat saya yang pengetahuannya sangat terbatas ini, dalam Qur’an maupun Hadist ngga ada larangan bagi seseorang untuk jualan makanan di bulan puasa. Lha ya asal jualannya yg halal dan dengan “menghormati yang sedang berpuasa”, dengan cara menutup warungnya pakai kain2 sehingga orang2 yg ngga puasa bisa ttp makan tanpa menyuguhkan pemandangan yang menggoda orang puasa. Sah-sah aja.

Maaf ya, saya ttp berpendapat org muslim di Indonesia ini banyak yang munafik. Termasuk saya. Kenapa harus selalu “Hormati KAMI, SAYA, yang sedang berpuasa!!!”. Harus orang lain yang menyesuaikan diri. Bukannya sebagai muslim yang baik mereka juga harus pintar2 menjaga emosi, menahan hawa nafsu, dan juga menghormati orang yang TIDAK puasa, karena yang tidak puasa juga butuh makan. Bahwa muslim adalah golongan mayoritas di Indonesia ngga bisa dijadiin alasan.

Hmph! Minta dihormati, tapi apa mereka bisa menghormati orang lain, yang sekedar berusaha dagang untuk dapet uang? Kalau dagangnya miras atau narkoba yha monggo digerebeg -dengan cara yang baik namun tegas juga tentu. Apalagi prostitusi. Tapi keseharian diluar bulan ramadhan, mereka bebaskan mata mereka melototin perempuan, mem-poligami istri(istri)nya tanpa ijin sang istri(istri), menzhalimi manusia lain…
hwampun deh….
Saya bukan manusia suci, tapi gimana bisa memberi contoh yang baik untuk sesama muslim kalau bersikap baik, fair dan menghargai manusia lain aja ngga bisa…

Mengingat ucapan guru agama jaman SD dulu, bhw di bulan puasa (ramadhan?) syetan dibelenggu, dirantai oleh Allah; jadi logicnya adalah manusia “hanya” berhadapan dengan hawa nafsu dari dalam dirinya tanpa bisikan dan godaan. Lhaaa, ya ternyata hawa nafsu ini lebih ‘buas’ ya dari hasutan syetan….
Astaghfirullah…

Published by Anggie on September 24th, 2007 | Filed under Blah..blah..blah.. | 1 Comment »

Puasa or not puasa. That’s (not) the question…

Rasanya biasa-biasa aja ngga puasa. Bukan karena saya ogah melaksanakan kewajiban sebagai muslimah, tapi saya merasa ada alasan (pembenar?) untuk tidak puasa Ramadhan -lagi- tahun ini. Kalau tahun kemarin saya ngga puasa karena hamil (saya jelas ngga mau jabang bayi tercinta kekurangan nutrisi karena saya maksa puasa), tahun ini saya, Insya Allah & Alhamdulillah, masih menyusui.

Sebagai salah satu pendukung gerakan pemberian ASI ekslusif, saya mungkin jadi peserta paling rakus. Makan bisa 5x sehari, itu baru makan nasi, ditambah cemilan2 dan susu minimal 3×200ml. Rakus? I don’t think so, soalnya badan saya tetep jadi kurus, bahkan berat badan saya lebih rendah dibanding sebelum hamil dulu; belum lagi rambut rontok sampai harus saya papas pendek banget, yg saya curiga gara2 nutrisi jatah si rambut diserap anakku. Jadi kebayang duong, gimana kalau saya sampai maksa puasa!? Bisa2 kekurangan cairan dan nutrisi buat saya dan baby micheline tercinta(not to mention starving alias kelaparan berat!)

Yang jadi pemikiran saya adalah mbayar puasanya. Tahun kmrn bayar fidiyah, dan tahun sekarang berencana gitu lagi. Suami yang rutin jadi pelanggan Rumah Zakat sudah ancang2 mau beli paket buka puasa yg ditawarkan RZ untuk mbayar fidiyah saya. Lumayan juga, per-paketnya 15 ribu, dan dgn lihat salah satu dialog di bulletinnya, pembayaran fidiyah dilakukan dengan perhitungan 3x sehari makan diganti 3x paket buka puasa, which means 3x 15ribu, dikalikan lagi sebulan puasa tahun ini. Lumayan gede juga! Sampai saya sempat (agak….) protes, karena saya merasa biaya makan saya sehari ngga se-besar itu. But then, saya itung2, dengan tingkat kerakusan saya dan ekstra susu serta cemilan2 yg saya lahap dalam sehari, mungkin memang segitu pengeluaran makan saya sehari (shout-out: GW RAKUUUUUSSSSS…..!!!….HUAHAHAHAHA!)
Jadi akhirnya saya setuju dengan plan mas suami. Toh kalaupun ternyata pada perhitungan real-nya ngga se-banyak itu yg saya keluarkan, toh Insya Allah ‘kelebihan’nya moga2 bisa dikonversikan Allah untuk pahala buat anakku tercinta, miss micheline. (Amiiin…!!!..dan “HUSH!?” …Seenaknya aja gw berusaha bargain masalah pahala dgn Sang Maha Kuasa!? Tapi, ya who knows….Astaghfirullah..hampura abdi, Gusti!!!)

Yah, berhubung michel udah kebangun dan saya masih ngantuk setelah bangun siapi sahur tadi, kayaknya mendingan tidur lagi deh skrg….hehehe…..
Btw, HAPPY BIRTHDAY TO ME! Ha-ha! Tadi pas bangun mas suami lgsg ucapin happy birthday, trus mum & my sister tlp, then waktu mau snuggling dede yg kebangun, saya nemuin sesuatu di atas bantal….my b’day present!!! From mas suami! And it’s something i’ve been setting my eyes-on bbrp lama ini….Heuheuheu…! Alhamdulillaah….Thank You cintaku :-*:-*:-*

Published by Anggie on September 24th, 2007 | Filed under Blah..blah..blah.. | Comment now »

Air berasa Itali

Siapa yang ngga tau air mineral botolan atau gelas-an, yg secara umum dikenal dengan AQUA - (note: saya ngga berniat menyebut merk dagang). Rasanya di warung paling terpencil pun kita bisa menemukan air mineral kemasan ini, dengan berbagai merk dagang.

Selama ini saya cuma mengkonsumsi air mineral produk dalam negeri; bukan karena saya fanatik dgn produk dalam negeri, tapi memang yg umum tersedia ya itu. Walaupun di pasaran ada beberapa merk air mineral kemasan botol, yang tentunya dijadikan produk ekslusif. Ada yg produk amerika, eropa, dll. Nah, tadi siang waktu belanja ke swalayan, suami nunjukin air mineral impor ‘berperisa’ Italia. Mengklaim bahwa produknya diperoleh dari mata air pegunungan tuscanny, jadi penasaran juga; “sebelum ke itali cicipin dulu airnya…”, ceritanya seh (kapaaaan ya ke itali?! hehehe), kata suamiku. While me, half wishing -stupidly- that ‘going to italy part will come true…huahahahaha!

Mas suami nyengir setelah mencicipi si air italia; menurut doi yha ngga beda rasanya dari air mineral lokal. Buat saya, ada sedikiiiiit rasa yg beda. I cannot explain it (karena saya ngga se-jenius Jang Geum dalam ‘menggambarkan rasa’), tapi saya pernah minum air mineral impor juga dulu dan rasanya memang ada sedikit beda dgn rasa lokal. Ada lah ‘tingling’nya. Bukan karena pengaruh kemasan cap itali-nya lah…Padahal, siapa yg tau apa itu air bener2 diambil dari air pegunungan itali; bisa aja bukan dari itali, atau mgkn dari itali tapi mata air manaaaa gitu, atau malah air -re-cycled….hehehe…

Bisnis yang menguntungkan kah air mineral? Yang jelas kalau disini banyak agen isi ulang air mineral (jualan per-galon tentunya..kalau isi ulang gelas nampak merugi), dengan kualitas air yang hmh..ngga jelas sampa ada yg pernah mensinyalir bhw si air2 isi ulang macam depot-an gitu mengandung bakteri sampai kuman2 yg namanya pun saya ngga hafal. Tapi lagi, siapa yg bisa menjamin bhw air mineral yg namanya paling top di negeri ini -dan juga si air impor dari negeri itali- bebas virus ataupun kuman2…? Bening sih bening, tapi dalamnya (air) siapa yg tau?

Published by Anggie on August 4th, 2007 | Filed under Blah..blah..blah.. | Comment now »